Share This Story, Choose Your Platform : Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

Artikel ini ditulis dan sebelumnya dirilis di blog pribadi Kezia Debora, dan dirilis ulang di blog Galedu tanpa mengubah isi dan kata-katanya sedikit pun.


“Zi lo bisa ikut LPDP lagi tahun depan, satu kali lagi.”

Begitu bunyi pesan pendek yang gue terima tadi malam, dan gue cuma punya satu tanggapan dalam pikiran, “Ain’t nobody got time fo dat.”

Jadi gue sempat mengajukan beasiswa untuk kuliah magister luar negeri LPDP dua kali dan gagal dua-duanya di tahap wawancara. Pertama di bulan Mei 2015, kedua di bulan Agustus 2015. Gue menyiapkan dokumen sejak setahun sebelumnya, baik surat rekomendasi, essay, IELTS, SKCK, tes kesehatan (untuk bulan Agustus 2015), surat ini, surat itu, surat blablabla dan tentu saja dan Letter of Acceptance dari universitas. Gue mengantongi dua unconditional LoA dari University of Leeds dan University of Southamptons. Ahey.

Kenapa gue gagal? Wallahualam. LPDP tidak memberitahu alasan mengapa masing-masing calon awardee gagal. Jadi semua yang akan gue tulis kemudian adalah konspirasi dan asumsi gue semata, oke.

Gue rasa gue salah di satu poin. Gue terlalu naif. Pilihan jurusan gue adalah Fashion Enterprise. HAHAHA. Kuliah begini minta dibayarin negara. Yang gue yakini pada waktu itu semua bidang harusnya mendapat poin yang sama, tetapi menurut kabar burung sih, engga. Bidang gue termasuk dalam Bidang Lain, yaitu bidang terakhir dalam daftar bidang strategis yg menjadi visi misi LPDP. Untuk sekarang masuk ke poin 12 ya, jadinya Bidang Budaya, Seni, dan Bahasa.

Baik pada essay dan wawancara, tersurat bahwa tujuan gue adalah memajukan industri fashion Indonesia. Tapi gue merasa pewawancara menjadi sulit ketika gue berusaha menjelaskan kenapa industri fashion itu bukan batik dan kenapa batik itu bukan fashion. Rasanya lebih horor dari sidang skripsi deh beneran.

Komentar yang serupa gue temukan dari teman-teman yang melamar beasiswa di bidang seni, bahwa pewawancara tidak berusaha mengerti tapi menyerang calon awardee. Gue merasakan sense of insecurity ketika mulai menjelaskan di luar pengertian pewawancara. Atau kemungkinan besar pendapat ini murni subjektivitas dari hati pahit gue.

Dalai Lama pernah bilang,

“Remember that sometimes not getting what you want is a wonderful stroke of luck.”

Gagal beasiswa yang sama dua kali memang menjemukan, tapi sekarang gue bisa melihat dengan kacamata periferal bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada kuliah di Eropa. Mau tau apa? Duit. Hahaha.

Banyak teman-teman yang kuliah di Eropa, lulus cum laude kemudian pulang ke Indonesia tidak mendapat pekerjaan. Mau bikin usaha pun tidak punya modal. Ada yang menghapus pengalaman S2nya sebagai usaha untuk mendapatkan kesempatan wawancara.

Sebagai budak kapitalis yang kadang meng-interview calon pekerja, gue mau kasi tau kepada teman-teman pelamar beasiswa bahwa pengalaman kerja jauh lebih penting daripada nama panjang penuh abreviasi. Kecuali jika teman-teman mempunyai pekerjaan yang menunggu teman-teman untuk pulang atau punya bapak setajir Raja Arab, pergilah sekolah sampai ke negeri awan. Saran saya untuk teman-teman working class yang baru lulus, mau melamar beasiswa dan berencana untuk kembali bekerja di Indonesia, jangan dulu. Carilah pengalaman kerja sebanyak-banyaknya. Setelah punya pengalaman kerja setidaknya tiga sampai empat tahun barulah mengambil sekolah lanjutan, jika masih relevan.

Jika kamu mau mengambil bidang-bidang praktis seperti teknik, ekonomi, pertanian, hukum, dan teman-temannya, ambillah LPDP. Jika ingin mengambil bidang romantika seperti seni dan budaya, cobalah beasiswa lain lebih dulu seperti Erasmus, Chevening atau beasiswa yang sumber dananya bukan pemerintah Indonesia (persiapannya mahal kak).

Ini saran strategi dari gue yang udah gagal dua kali dan belum berencana mengambil magister lagi lho, tidak ada asuransinya. Monggo, mas, mbak.