Share This Story, Choose Your Platform : Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Email this to someone

Artikel ini ditulis dan sebelumnya dirilis oleh Janet Valentina di blog pribadinya, dan dirilis kembali di blog Galedu tanpa mengubah isi dan kata-katanya sedikitpun.


Prolog

Sekitar tiga bulan yang lalu, tepatnya pada tanggal 10 Juni 2016, saya mendapatkan keputusan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan bahwa saya dinyatakan sebagai salah satu penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia. Apakah saya merasa senang mendengar berita tersebut? Pasti. Akan tetapi, terdapat pelajaran yang lebih berharga di balik nilai sebuah beasiswa yang berarti layaknya hasil sebuah kerja keras. Pelajaran tersebut ingin saya bagikan melalui tulisan ini.


Pilihan, Usaha, dan Hasil

Semua dimulai ketika saya telah bekerja hampir dua tahun semenjak lulus kuliah. Setelah melakukan berbagai pertimbangan dan perenungan, saya memutuskan untuk mengejar keinginan saya untuk kuliah S2 dan berburu beasiswa untuk dapat membiayainya. Oleh karena itu, saya lalu melakukan berbagai riset (mencari informasi secara online dan dengan bertanya kepada teman-teman), mempersiapkan diri, dan akhirnya memilih untuk mendaftar ke program Beasiswa Pendidikan Indonesia, salah satu program beasiswa yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan – Kementerian Keuangan RI.
Begitu besar harapan saya agar mendapatkan beasiswa ini, apalagi sebelumnya saya telah menghabiskan waktu satu tahun untuk berdebat dengan diri sendiri, berusaha mengalahkan ego dan rasa takut akan kegagalan – bahkan sebelum saya mencoba. Maka, saya begitu mantap mendaftarkan diri saya ke batch pertama seleksi beasiswa LPDP di tahun 2016.

Ternyata hasil seleksi tersebut jauh dari apa yang saya harapkan. Ya, saya tidak lolos seleksi. Saya masih ingat dengan begitu jelas bagaimana saya mempersiapkan diri untuk seleksi substantif yang merupakan seleksi akhir di batch pertama tersebut. Seleksi substantif LPDP terdiri dari tiga jenis seleksi: seleksi penulisan esai di tempat (on the spot essay), Leaderless Group Discussion, dan wawancara. Pengalaman tersebut merupakan yang pertama bagi saya; saya belum pernah mengikuti seleksi penerimaan beasiswa apapun sebelumnya. Jadi, proses tersebut begitu menegangkan dan membuat saya gugup.

Sayangnya, kegugupan tersebut lah yang membuat saya tidak menjadi diri saya sendiri saat menghadapi seleksi. Saat mengerjakan esai dan mengikuti Leaderless Group Discussion performa saya jauh dari maksimal. Ditambah lagi, pada saat wawancara, kegugupan saya membuat saya tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tim seleksi dengan tenang. Alhasil, saya tidak dapat menyampaikan latar belakang, tujuan, dan rencana studi saya dengan baik. Firasat saya yang kurang baik terhadap seleksi itu pun terbukti benar saat hasil seleksi diumumkan melalui surat elektronik. Tulisan ‘TIDAK LULUS’ berwarna merah terang dan ukuran yang begitu besar memberikan perasaan yang terlampau mirip dengan mendapatkan nilai jeblok saat ujian sekolah, tetapi sebenarnya lebih serupa lagi dengan perasaan saat mengalami patah hati.

Ditambah lagi, perasaan sedih karena ketidaklolosan saya tidak hanya disebabkan oleh perasaan gagal, tetapi juga karena saya merasa mengecewakan orang-orang yang telah percaya dan mendukung saya. Ketika orang tua saya bertanya mengenai hasil seleksi tersebut dengan penuh harapan, dengan berat hati saya menjawab bahwa saya belum lolos seleksi di tahap ini.

Tidak Familiar dengan Beasiswa Pemerintah

Sebagai informasi, keluarga saya adalah keluarga etnis Tionghoa yang tidak begitu akrab dengan beasiswa pemerintah, begitu pula dengan kerabat-kerabat saya. Keinginan saya untuk bersekolah S2 dengan beasiswa pemerintah sempat memunculkan berbagai keresahan. Sempat pula orang tua saya, yang adalah pegawai swasta dengan latar belakang pendidikan sarjana S1, beranggapan bahwa lebih baik saya mengejar tangga karir dengan bekerja di perusahaan yang besar dan stabil daripada kembali bersekolah. Namun, setelah diskusi dan penjelasan yang panjang, pada akhirnya kedua orang tua saya begitu mendukung keinginan saya ini. Kemudian, beritanya pun tersebar kepada para kerabat saya di keluarga besar. Saya berusaha memaklumi, karena keluarga besar saya memiliki kultur keluarga yang senang berbagi informasi ‘update’ mengenai keluarga masing-masing, apalagi yang terkait dengan perkembangan anak-anak. Walaupun bukan harapan saya agar informasi ini menyebar viral, tentunya dukungan-dukungan yang ada tetap saya jadikan dorongan dan sumber motivasi.

“Kalau kamu dapat beasiswanya, kamu nggak dikontrak untuk bekerja di instansi pemerintah kan?” dengan tatapan bergidik ngeri. Ini adalah salah satu pertanyaan yang paling sering saya dapatkan dari orang lain saat tahu bahwa saya mendaftar ke program beasiswa yang dikelola pemerintah.

Sayangnya, karena begitu banyak kerabat yang mengetahui mengenai proses seleksi beasiswa yang saya ikuti ini, tentu mereka juga akan menanyakan hasilnya. Saya langsung memprediksi bahwa mama saya akan dihujani pertanyaan mengenai hasil seleksi yang telah saya lewati. “Gimana, si Janet dapat nggak beasiswanya?”

Gagal: Di antara Meritokrasi dan Diskriminasi

Banyak yang bilang kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, tetapi saya tidak dapat memungkiri betapa harapan saya hancur mengetahui saya tidak lolos seleksi. Perasaan ditolak tidak akan pernah menjadi perasaan yang menyenangkan, dan kadang seolah-olah hidup enggan untuk memberikan hasil yang setimpal dengan kerja keras dan pengorbanan yang kita lakukan. Maka, menghadapi kegagalan tersebut, saya hanya berharap orang-orang yang mengetahuinya hanya akan memberikan saya dukungan yang lebih besar dan teriakan semangat yang lebih keras.

Mama saya yang mengerti hal tersebut, tidak pernah lupa memberitahu saya reaksi kerabat-kerabat saya yang satu persatu mengetahui hasil seleksi tersebut dari sang mama. Ada yang kasihan, ada yang terus menyemangati. Saya merekam satu persatu pesan-pesannya, merasa berterima kasih. Sampai suatu hari, di antara sejumlah reaksi yang saya terima, datang sebuah reaksi yang begitu menampar saya.

“Diskriminasi banget sih!” ujar salah satu kerabat saya begitu mengetahui saya tidak lolos.

“Diskriminasi? Diskriminasi apa?” pikir saya, mengernyitkan dahi dengan intensnya.

Duka akan kegagalan saya seketika memudar. Saat itu, yang kemudian justru membuat saya terganggu bukan lagi rasa bersalah saya karena telah memupuskan harapan orang lain, melainkan reaksi berupa prasangka buruk yang berusaha memberikan justifikasi bahwa ketidaklolosan ini adalah hasil tindakan diskriminatif. Ya, saya dianggap tidak lolos karena saya berasal dari etnis Tionghoa yang merupakan kaum minoritas di Indonesia.

Saya yang awalnya merasa begitu kecewa karena tidak lolos seleksi, menjadi jauh lebih kecewa karena kegagalan saya dianggap lumrah. Ketika reaksi yang saya ekspektasikan adalah “Wah, nggak apa-apa. Coba lagi ya! Lebih semangat mempersiapkan seleksi selanjutnya ya. Kamu pasti bisa!” yang saya dapatkan adalah “Wah, wajar itu. Pantas saja kamu nggak mendapatkan beasiswa, namanya juga beasiswa pemerintah, ya pasti yang diberikan kebanyakan anak-anak pribumi saja.”

Rasa geram dan sedih pun bercampur menjadi satu. Pandangan dan prasangka mereka terhadap negeri ini begitu buruknya, sampai-sampai sebuah lembaga negara yang profesional pun diragukan profesionalitasnya.

Menurut saya, pemikiran seperti ini keliru.

Subjektifitas pasti ada dalam seleksi manapun, tidak hanya satu beasiswa saja, tetapi beasiswa manapun. Ini juga berlaku di dalam seleksi masuk kerja. Mengapa? Karena proses seleksi tidak cukup hanya melihat prestasi akademis maupun kemampuan yang dapat diukur secara kuantitatif. Seleksi wawancara yang memiliki bobot terbesar pun menjadi sesuatu yang lumrah, karena hanya lewat seleksi wawancara lah tim seleksi dapat berkomunikasi langsung dan mengetahui nilai-nilai maupun tujuan yang dipegang oleh peserta seleksi.

Hal-hal tersebut menjadi tolak ukur terbesar keberhasilan dalam suatu seleksi karena seleksi adalah sebuah proses perekrutan calon anggota ke dalam suatu kelompok, badan, atau organisasi yang membutuhkan keseragaman visi dan misi pesertanya.

“Saya berpikir bahwa saya tidak lolos karena belum dapat memenuhi kriteria, tapi tidak pernah sedikitpun saya menarik kesimpulan bahwa kriteria tersebut adalah menjadi seorang pribumi.”

Saat itu, ingin rasanya saya membantah dengan berkata: “Bukan. Salah. Saya tidak lolos seleksi bukan karena saya adalah seorang keturunan Tionghoa seperti yang kalian pikirkan, melainkan karena saya tidak mempersiapkan diri dengan baik,” tapi tentu akan sia-sia kalau tidak dibuktikan melalui tindakan. Maka, saat pendaftaran tahap kedua seleksi LPDP di tahun 2016 dibuka, saya berusaha mempersiapkan diri lebih baik dan kembali mendaftar. Saya tidak lagi hanya bersemangat lebih besar untuk meraih kesempatan belajar dan membangun kualitas diri yang kelak dapat menyumbangkan kontribusi bagi Indonesia, tetapi juga untuk membuktikan bahwa prasangka tersebut salah besar.

Tepat pada tanggal 10 Juni 2016, saya berhasil membuktikannya. Saya lolos seleksi substantif yang merupakan seleksi terakhir program Beasiswa Pendidikan Indonesia dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan – Kementerian Keuangan RI. Saya lolos.

Dan terakhir kali saya cek, saya masih keturunan Tionghoa tuh. badumtsss

Saya memang keturunan Tionghoa, tapi saya orang Indonesia, lahir dan dibesarkan di tanah air ini. Saya percaya, beasiswa yang dipercayakan kepada saya ini hanyalah bentuk dari kemenangan kecil terhadap satu dari banyaknya stigma sosial yang sepatutnya diberantas. Harapan saya, stigma negatif pemerintah Indonesia akan semakin memudar, seiring dengan bertambahnya instansi pemerintahan yang menjunjung tinggi integritas, profesionalitas, sinergi, pelayanan, dan kesempurnaan.

“Saya percaya, beasiswa yang dipercayakan kepada saya ini hanyalah bentuk dari kemenangan kecil terhadap satu dari banyaknya stigma sosial yang sepatutnya diberantas.”


Epilog

“Ci! Ci! Cina! Cina!” sekelompok remaja laki-laki dari seberang jalan berteriak-teriak sambil tertawa dan menunjuk-nunjuk saya dan dua orang teman saya yang kebetulan juga keturunan Tionghoa, di perjalanan menuju sekolah. Bagi mereka hal itu lucu — bagi saya, itu sangat menakutkan.

Sebenarnya saya memahami bahwa mungkin setiap keturunan Tionghoa di Indonesia memiliki setidaknya satu pengalaman yang buruk dengan adanya diskriminasi terhadap etnis, budaya, maupun agama. Saya pun tidak mudah mengabaikan panggilan-panggilan iseng yang dianggap harmless tapi menurut saya mengintimidasi. Maksud saya, tidak mungkin mereka paham bahwa hal kecil seperti itu membuat saya ngilu mengingat cerita kerusuhan di tahun 1998, di mana banyak wanita keturunan Tionghoa menjadi menjadi korban pemerkosaan.

Jadi, saya tidak akan memaksa para pembaca, khususnya yang pernah mengalami diskriminasi ataupun bullying dalam bentuk apapun di masa lampau, untuk melupakan begitu saja apa yang telah terjadi. Yang terjadi memang sudah terjadi. Tetapi negeri ini hanya akan semakin maju apabila kita berpikiran terbuka dan pelan-pelan meninggalkan prasangka buruk terhadap orang-orang yang memiliki perbedaan dengan kita. Jika seseorang melakukan hal yang tidak adil kepada orang lain, itu kesalahannya, bukan kesalahan sukunya, etnisnya, agamanya, atau apapun golongan lainnya yang cenderung digeneralisasikan.

Bayangkan, tanpa ribuan penilaian keliru yang kita buat, berapa juta musuh yang dapat seketika berubah menjadi sahabat?

“Our privilege to make personal judgment based on our experiences should never stop us from being open-minded and kind to everyone.” – Janet Valentina